blog ini adalah tempatku berkarya dan mengkritisi apa pun yg seharusnya dikritisi tp bisa jg hanya sekedar corat-coret, yah itu mah tergantung yg baca (ato yg nulis?) pokokna mah, selamat datang di duniaku,,,
ternyata punya pasangan sesama aktivis ga menjamin bakal bisa lebih ngerti, contohnya gw, emg sih gw tau dy lg sibuk bgt ngurusin petani garut yg ditangkap, gw pun sibuk dg aktivitas gw di kampus, tapi tetap aja rasa pgn ketemu, pgn diperhatikan, pgn disayang, itu muncul di waktu-waktu yg ga terduga, klo udah begitu, gw cuma bisa mengelus dada n blg ke diri gw "it’s your choice, u must take the consequences"
apa sih yg ada dalam otak pemerintah (SBY-JK) hari ini??!!
BBM naik 4x selama masa kepemimpinannya
minyak tanah dikonversi ke elpiji
minyak goreng mahal
beras diimpor dg kualitas yg lebih rendah
universitas negeri diprivatisasi
kasus lumpur Lapindo ga selesai-selesai
kasus PTDI dipersulit
sengketa tanah antara petani v.s. militer dimana-mana
buruh dirugikan dg sistem kontrak
mahasiswa semakin susah kuliah karena SPP mahal
anak buruh, anak tani ga bisa mengakses pendidikan
rumah sakit hanya mengurusi orang-orang berduit
jamsostek tidak dilayani
kelaparan dimana-mana
(katanya) wakil rakyat tp korupsi melulu
pengusaha merebut dan mengalihfungsikan tanah menjadi lahan bisnis
kok anggaran pendidikan minimal 20 % dipotong melulu?
pajak naik terus tapi kok ga ada hasilnya buat rakyat?
fasilitas umum kok semakin sedikit?
baca:
ORANG MISKIN DILARANG SAKIT (karena biaya dokter+rumah sakit mahal)
ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH (karena biaya pendidikan mahal)
ORANG MISKIN SEBAIKNYA TERIMA AJA KEBIJAKAN PEMERINTAH (walaupun itu merugikan)
ORANG MISKIN SEBAIKNYA TUTUP MULUT (cukup terima aja apa yg diberikan)
ORANG MISKIN SEBAIKNYA TETAP BODOH (supaya pemerintah punya alasan utk mengeruk keuntungan dg program-program yg sama sekali tdk menyentuh kebutuhan konkretnya)
ORANG MISKIN SEBAIKNYA BERMIMPI SAJA MENJADI KAYA (karena sampai kapanpun ga kan bisa jadi kaya)
ORANG MISKIN SEBAIKNYA DI PINGGIR AJA, GA USAH IKUT-IKUTAN KE TENGAH (biarkan pemerintah atau orang kaya aja yg memegang peranan penting)
ORANG MISKIN SEBAIKNYA JADI FIGURAN AJA (biar orang kaya yg jadi pemeran utama)
NB: emang susah yah jadi orang miskin, udah hidupnya susah, dibodohi pula. makanya jangan mau jd orang bodoh terus, biar miskin harus tetap pintar, supaya bisa memimpin negeri ini dan melakukan perubahan. caranya dengan BERORGANISASI, hanya dengan berjuang bersama kita akan bisa mengatasi apapun. tentu saja hanya organisasi yg berkarakter progresiflah yg layak kita ikuti, salah satunya FRONT MAHASISWA NASIONAL (FMN) karena FMN merupakan organisasi yg bertujuan memperjuangkan pendidikan agar bisa diakses oleh seluruh kalangan. ayo, segera bergabung dg FMN terdekat di kampus dan kota anda!!
lagi2 terjadi kasus kekerasan yg disebabkan oleh praja ipdn, ya ampun mo sampe kapan sih lingkaran setan ini terus berlangsung?
udah mah pendidikannya ga beres, makin diperparah dengan kasus yg terus berulang, mo sampe kapan kita ditindas klo ga bangkit melawan?
MARS FMN
dunia terus bergerak
masyarakat telah usang
zaman yg lama segera berubah
dunia baru segera tiba
kitalah mahasiswa
berjuang segaris massa
tugas sejarah, pikul bersama
tuk hari depan yg mulia
hidup bersama massa rakyat
dalam semesta pelawanan
karna saatnya segera tiba
bangkit rebut kedaulatan
kibatkan benderamu, FRONT MAHASISWA NASIONAL
menggalang kekuatan, menuju kemenangan
berjuang bersama rakyat, rebut demokrasi sejati
dan perjuangan massa, mengalahkan tirani
nb: utk seluruh cameradku di seluruh indonesia, perjuangan kita belum usai kawan!
mari kita gelorakan terus perjuangan massa di kampus2,utk bersama-sama mewujudkan sistem pendidikan nasional yang ILMIAH, DEMOKRATIS, dan MENGABDI PADA RAKYAT!!
DARAH RAKYAT
darah rakyat masih mengalir
membawa lapar dan miskin
tiba saatnya pembebasan
rakyat kan menjadi hakim 2x
bergerak sekarang
demokrasi pasti menang
di bawah panji-panji kita
merah warna darah rakyat 2x
kami berjanji pada rakyat
kemiskinan pasti hilang
kaum pekerja memerintah
dunia baru pasti datang 2x
bergerak sekarang
demokrasi pasti menang
di bawah panji-panji kita
merah warna darah rakyat 2x
nb : lagu ini dipersembahkan utk kamerad ku dan seluruh rakyat tertindas, ayo bangkit berjuang, melawan penindasan!!
ternyata, ada yg perhatian itu enak yah, tp susah sekali tuk setia,,,
hmm, tampaknya penyakit "tak mau berkomitmen" ku kambuh lagi niy,,,
ya ampun, ga ngerti deh, yg jelas aku hanya mecoba menjalaninya tanpa beban, karna ku tau, terlalu banyak yg hrs dikorbankan n dipikirkan klo pgn serius…
jadinya ya sudahlah, ku hanya mencoba belajar tuk mencintai dan dicintai, sekaligus mencoba belajar dr kesalahan2ku sebelumnya (mudah2an gak terulang lagi, amien)…
yg jelas 3 bulan ke belakang, bayak bgt kejadian yg bikin aku makin berpikir n melek realitas, bahwa memang kita berada dan akan selalu berada di bawah penindasan, selama kita hanya diam dan pasrah!!
cape? iya. kesal? iya. sakit hati? pasti. tapi yg jelas, semua itu merupakan proses menuju kedewasaan dan kematangan berpikir (gaya lo Ka, hehehe…). dan semua proses itu harus dijalani…
yah, ku hanya bisa berdoa n berusaha tuk selalu melewatinya, toh aku diberikan kehidupan olehNya kan utk selalu beribadah kepadaNya,,,
mudah2an, aku selalu diberikan kekuatan dan ridhoNya supaya aku bisa tetap berjuang di jalan yg benar yaitu jalan menuju revolusi!!
ya ampun, kenapa makin lama makin ngelantur siy?? ya memang tampaknya sesi curhat ini harus diakhiri segera, klo tidak, semakin banyak omongan yg tdk jelas dan tdk terarah keluar dari pikiranku (nao deui?!)
yah, terakhir… tuk seseorang (atau lebih?) yg saat ini dekat denganku n selalu mensupport aku, mudah2an jalan yg kita pilih ini akan selalu bisa menyatukan kita, kalaupun suatu saat aku tak bersamamu, yakinlah aku kan tetap berjuang…
ingatlah selalu, PERSATUAN ITU RELATIF namun PERJUANGAN ITU MUTLAK!!
seberapa penting kah kata "maaf" dan "terima kasih" ?
sebagian dari kita mungkin menganggap sepele kata2 di atas, tetapi bagi sbagian besar orang, kata2 sepele itu sangat berarti…
sebenernya, apa makna dr kata "maaf" ?
maaf, merupakan penyataan atau ungkapan sebagai tanda penyesalan atas kesalahan yg diperbuat, ini berarti orang yg menyatakan permintaan maaf, sadar bahwa dirinya berbuat kesalahan atau mengganggu kenyamanan orang lain. utk memperbaiki kesalahannya itu, ia mengatakan pada orang yg bersangkutan.
terima kasih, merupakan pernyataan atau ungkapan penghargaan atas bantuan atau pertolongan yg diberikan orang lain pada kita. hal ini menunjukkan kita sangat menghargai tindakannya sekaligus menerima bantuannya dengan senang hati dan tulus.
mengapa kata "maaf" dan "terima kasih" begitu penting?
karena, kedua pernyataan tersebut, mengindikasikan bahwa kita masih menghargai dan mempedulikan perasaan, pikiran, dan tindakan orang lain terhadap kita. itu berarti, menunjukkan pula seberapa besar penghargaan kita terhadpa orang2 di sekeliling kita.
semakin kita menganggap orang2 di sekitar kita begitu penting, semakin sering pula kita mengucapkan itu. begitu pula sebaliknya, semakin jarang kita mengucapkan kata2 itu, semakin kurang penghargaan kita terhadap orang2 di sekitar kita.
lantas, bagaimana jika kita jarang atau bahkan seringkali melupakan kata2 itu?
hal ini dengan jelas menunjukkan tingkat kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar kita begitu rendah, atau bisa dibilang kita cenderung tidak peduli dengan sesuatu apapun yg terjadi di sekeliling kita atau bahkan menganggap apa yg terjadi di sekitar kita, tidak ada hubungannya dengan kita. padahal mungkin saja suatu saat kita membutuhkan bantuan dari sekitar kita.
lalu, apa yg harus kita lakukan?
semakin sering kita mengucapkan kata2 itu, semakin bagus utk kita (karena ini menunjukkan sikap rendah hati sekaligus penghargaan yg tulus dr kita terhadap orang lain). krn utk orang2 yg jarang sekali mengucapkan itu, sulit sekali mengucapkannya utk prtama kali.
dibutuhkan keberanian yg besar dan hati yg tulus utk mengucapkannya, karena kata2 itu bukan hanya sekedar kata2, tetapi jg penghargaan kita terhadap orang lain.
terkadang, orang lebih membutuhkan ucapan "maaf" dan "trima kasih" yg tulus, dibandingkan seribu alasan… karena itu, mulai dtik ini, ucapkanlah "maaf" dan "trima kasih" yg tulus, pada orang2 di sekitar kita, karena mereka berhak utk mendapatkannya…
KOMPAS Selasa, 03 Mei 2005
“KETIKA satu janji telah terucap, tak ada yang lebih baik kecuali menepatinya.”
BEGITU orang bijak bertutur kata. Dan, betapa banyak harapan yang digantungkan ketika rakyat Indonesia untuk pertama kalinya menentukan sendiri pemimpin negeri ini. Pilihan pun dengan mantap dijatuhkan kepada pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, semata-mata karena janji yang mereka ucapkan.
Masih jelas terngiang ketika pasangan ini dengan tegas mengatakan akan memberi perhatian lebih banyak pada pendidikan. Tidak hanya sarana dan fisik pendidikan, namun juga kualitas, akses, serta kesempatan pendidikan yang sama bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya warga yang tergolong miskin.
Masih jelas terngiang ketika Jusuf Kalla meminta semua pihak mencatat seluruh janji yang diucapkan di masa kampanye agar bisa ditagih di saat terpilih nanti. “Saya setuju jika janji-janji calon presiden dan calon wakil presiden dicatat agar jika terpilih nanti masyarakat bisa menagihnya,” kata Jusuf Kalla lantang di depan peserta Rakernas Badan Diklat di Srondol, Semarang, 17 Juni 2004.
Namun, antara janji dan kenyataan memang tak selalu sama. Setelah satu semester memimpin negara, seluruh bangsa justru dihadapkan pada realita yang jauh dari angan, yaitu pendidikan yang semakin mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat miskin. “Berat juga setiap bulan harus bayar Rp 100.000 untuk anak yang di SMP dan Rp 60.000 untuk yang di STM. Itu belum ongkos ke sananya,” kata Bu Misah. Ia seorang buruh cuci di pinggiran Kota Tangerang, Banten, yang berbatasan langsung dengan ibu kota republik ini.
Bisa dipahami jika ia keberatan. Penghasilannya sebagai buruh cuci di kampung dan kompleks hanya berkisar antara Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan. Sementara si suami hanyalah seorang petani lahan tidur. Dengan kata lain, penghasilannya tidak menentu. Sementara itu, jumlah uang sekolah bulanan yang harus dibayar bukanlah angka mati. Dalam skala tertentu, ia masih harus membayar uang buku dan uang seragam, yang terdiri atas baju batik, baju olahraga, serta celana senam.
Bu Misah hanyalah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang harus terengah-engah dalam memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anaknya. Karena itu, tak mengherankan jika angka putus sekolah di Indonesia tak jua turun. Data di Depdiknas yang diungkapkan Direktur Pendidikan Masyarakat Eko Djatmiko, misalnya, menunjukkan angka putus sekolah pada tingkat SD dan madrasah ibtidaiyah (MI) pada tahun 2004-2005 masih berada pada angka 685.967, sedang pada tingkat SLTP mencapai 263.793.
Lebih parah lagi, Indonesia tetap berada di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang dikaji kualitas sistem pendidikannya, terutama yang terkait dengan daya saing tenaga kerja. Indonesia berada satu tingkat di bawah Vietnam yang menduduki urutan ke-11. Akibatnya, cita-cita membuka akses dan kesempatan pendidikan yang sama bagi seluruh anak bangsa hanyalah tinggal cita-cita.
DI sisi lain, kondisi itu justru membangkitkan semangat di beberapa kalangan untuk membangun satu sistem pendidikan berkualitas, namun terjangkau. Seorang anak kiai di Salatiga, Jawa Tengah, misalnya, terpanggil untuk menyiasati situasi pendidikan yang ada dengan mendirikan SLTP alternatif. Bahruddin, begitu anak kiai itu dipanggil, lalu mendirikan sekolah alternatif Qaryah Thayyibah, satu sekolah yang berbasis pada komunitas di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga.
Sistem komunitas sengaja dipilih untuk menyiasati biaya pendidikan di sekolah reguler yang tergolong tinggi, terutama bagi warga setempat. Sebut saja untuk meneruskan ke jenjang SLTP, sekolah reguler setempat menuntut uang pangkal Rp 700.000 dengan uang bulanan antara Rp 25.000 hingga Rp 35.000. Jumlah itu masih ditambah uang transpor dan uang saku harian minimal Rp 5.000 per hari.
“Dengan mendirikan sekolah di lingkungan sekitar kita, setidaknya tidak diperlukan uang transpor,” kata Bahruddin. Sedang untuk menyiasati uang gedung yang biasanya mahal, pria kelahiran Salatiga, 9 Februari 1965, ini “menyulap” sebagian rumah dan garasi rumah mertuanya sebagai tempat pendidikan. Untuk biaya pendidikan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada kemampuan orangtua siswa.
Disepakati, orangtua bersedia membayar Rp 10.000 per bulan dengan uang harian Rp 4.000. “Kami memang menuntut uang harian untuk mengingatkan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtua dan bahwa pendidikan tidak pernah bisa gratis,” jelasnya. Uang harian Rp 4.000 itu oleh Bahruddin sebenarnya dikembalikan kepada siswa dalam bentuk uang cicilan komputer sebesar Rp 2.000, lalu uang tabungan dan cicilan gitar Rp 1.000, dan ongkos makan pagi sebesar Rp 1.000. Namun, secara keseluruhan, Bahruddin memanfaatkan anggaran belanja daerah khusus untuk program SLTP terbuka.
Bahruddin ingin menjadikan anak didiknya sebagai pribadi bermutu dan berkeadaban. Langkah ini pun ia ambil sebagai salah satu bentuk pemberontakan pada sistem pendidikan sekarang. Di matanya, sistem pendidikan sekarang lebih menekankan aspek birokrasi dan fisik sehingga mengabaikan esensi pendidikan itu sendiri. Dalam arti, pendidikan masa kini kadang membuat anak justru terlepas dari keberadabannya.
“Zaman sekarang mereka menerima budaya asing tanpa pernah tahu di mana kebaikannya. Di sisi lain, mereka pun telah tercerabut dari akar budayanya,” kata Bahruddin. Alasan itulah yang membuatnya mewajibkan siswa memiliki satu unit komputer dan gitar di rumah mereka.
Kondisi sekolah Bahruddin memang sangat apa adanya. Hanya terdiri atas dua kelas, kelas I dan II, dengan jumlah siswa 24 anak didik. Namun, bisa dikatakan, mutu tetap terjamin. Setidaknya, mereka memiliki nilai rata-rata 8 untuk Bahasa Inggris dan Matematika ketika harus mengikuti ujian bersama-sama di sekolah induknya.
Hal itu bisa tercapai karena ia pun telah menerapkan sistem pendidikan global. Setiap siswa ia biasakan untuk mengerjakan tugas dengan menggunakan internet. Karena itu, atas bantuan Direktur Indonet Salatiga, Ir Roy Budhianto Handoko, ia mampu menyediakan fasilitas internet selama 24 jam.
“Ketika pikiran mereka masih jernih, kita harus mengajari mereka untuk menggunakan internet dengan benar. Karena, sekitar lima sampai 10 tahun lagi, sekitar 80 persen pengguna internet adalah mereka yang sekarang masih di tingkat SLTP. Anak-anak ini nantinya yang akan menjadi generasi pembaharu,” sambung Roy Budhianto.
Tak jauh berbeda dengan Bahruddin, Roy pun sangat prihatin dengan ketimpangan kesempatan dalam pendidikan. Selain membantu Bahruddin dalam mengelola pendidikan alternatif di Salatiga, ia juga membangun jaringan pendidikan Salatiga, termasuk memberikan akses internet kepada seluruh SLTP di Salatiga.
Lebih dari itu, ia mendirikan sekolah serupa di desa Nglelo, di kaki Gunung Merbabu. Alasan Roy mendirikan sekolah ini pun sama, yaitu orangtua yang tak mampu membiayai pendidikan anaknya. Sekolah alternatif Candi Laras yang ia dirikan bahkan hanya memiliki lima siswa. Maklum, sekolah ini baru dibuka, karena itu masih terus berusaha meraih kepercayaan masyarakat setempat.
Walau hanya lima orang, ia terus maju. Di puncak gunung itu, ia pun mendirikan fasilitas internet. Tidak mengherankan jika kelima siswa Candi Laras itu tidak asing dengan seluruh peristiwa di dunia. Mereka mampu mengakses internet selama 24 jam. Jangan pula heran jika kelima siswa itu memiliki teori dan menemukan teknik pertanian dengan lebih baik, hanya dengan dasar pengetahuan yang mereka cari sendiri melalui internet.
Sedikit berbeda dengan Bahruddin, keprihatinan Roy lebih terpusat pada kenyataan, menumpuknya “orang pintar” atau terdidik di kota. “Kalau pun dari desa, begitu sudah pinter mereka enggan kembali ke desanya,” katanya memberi alasan. Hal itu mendorongnya untuk mengarahkan para siswa pada pelajaran atau ilmu yang langsung bisa diterapkan di desanya. Misalnya, pertanian. “Jadi, saya yakin, anak-anak ini nanti akan menjadi doktor pertanian tanpa ijazah,” ujarnya. “Saya hanya ingin anak-anak itu memiliki pengetahuan yang cukup untuk memajukan desa masing-masing,” lanjutnya.
Upaya Roy memang tidak sia-sia. Kelima siswanya berhasil menempati rangking pertama ketika mengikuti ujian bersama SLTP induk yang telah dirujuk. Selain itu, upayanya menerapkan teknologi internet di sekolah, bahkan di puncak gunung, mendapat penghargaan khusus dari Prof Kenji Saga, peneliti dari Institut Nasional bidang Teknologi Komunikasi dan Informasi di Jepang. Sang Profesor yakin, sistem pendidikan yang diterapkan di Salatiga dan Nglelo akan mampu menciptakan komunitas kaum terdidik yang melek teknologi, seperti yang ia lakukan di Mitaka, Jepang.
Animo membangun sekolah berkualitas dan murah dengan basis komunitas ternyata tidak hanya terhenti di Salatiga dan lereng Merbabu. Hal senada tumbuh pula di Yogyakarta, Madiun, Kudus, Purwokerto, bahkan Boyolali. Hernindya Wisnuadji, misalnya, kini mengelola sekolah khusus anak petani di Gunung Kidul, Yogyakarta. Lulusan Sastra Inggris IKIP Sanata Dharma (kini Universitas Sanata Dharma) itu pun prihatin melihat anak para petani yang tidak mendapat bekal dan kesempatan cukup di bidang pendidikan. Begitu juga Muhammad Turjaun. Ia kini menjadi Kepala SMP Terbuka Otek Makmur di Dusun Glinggang, Desa Kendel, Kabupaten Boyolali.
Pada dasarnya, upaya ini didasari pada niat tulus untuk membantu siswa yang tidak terjangkau oleh pendidikan reguler dalam mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama. Turjaun, misalnya, mendirikan SMP Terbuka Otek Makmur semata-mata karena melihat anak-anak di desanya tak mampu menjangkau pendidikan reguler baik secara fisik maupun finansial.
Hatinya tergerak, ketika melihat kenyataan hanya ada empat tamatan perguruan tinggi di desanya. Hal itu sangat bisa dimaklumi karena SLTP atau SLTA terdekat, terletak sekitar 15 kilometer. “Jadi perlu naik ojek Rp 10.000, pulang-pergi, masih naik bis tiga kilometer. Karena itu tingkat pendidikan di desa Kendel sangat tidak maju,” urainya.
BUKAN berarti pemerintah diam dan berpangku tangan. Faisal Madani dari unit Fasilitasi Desentralisasi Pendidikan Depdiknas menegaskan, pemerintah kini berusaha menempatkan masalah pendidikan dalam skala prioritas kedua. “Hanya, persoalannya masih sangat banyak,” katanya dalam diskusi dengan Kompas, Senin pekan lalu.
“Kita ingin mengajak semua masyarakat untuk bersedia bersekolah dengan cara memberikan beasiswa, melalui subsidi BBM, dan berbagai cara lain. Tetapi kenyataannya, itu tidak menyelesaikan masalah pendidikan di tingkat bawah karena angka putus sekolah masih tetap tinggi,” katanya. Menurut dia, hal terbaik adalah adanya sinergi seluruh pihak untuk memahami persoalannya dengan benar, baru kemudian mengatasinya.
Dalam kesempatan lain, Eko Djatmiko menekankan, untuk mengakomodasi hal serupa, pemerintah kini menerapkan sistem pendidikan formal, nonformal, dan informal. Namun, persoalannya, hingga saat ini pemerintah belum memberikan sinyal yang jelas pada sistem pendidikan berbasis komunitas tersebut. “Tanpa batuan dari dinas terkait, sekolah-sekolah ini tidak akan langgeng,” kata Roy Budhianto.
Sangat bisa dipahami jika mereka menunggu sikap pemerintah tersebut karena rata-rata sekolah alternatif yang ada sekarang sangat bergantung pada masing-masing individu. Kondisi ini yang membuat mereka agak sedikit pesimistis pada keberlangsungan dan kelestarian berbagai sekolah alternatif yang telah mereka “lahirkan”. Terutama mengingat urusan melahirkan sekolah alternatif berbasis komunitas pun tidak gampang. “Awalnya, saya malah sempat diminta membubarkan diri oleh pihak subdinas pendidikan dasar menengah. Alasannya, muridnya cuma 12, sekolah yang muridnya di bawah 20 harus dibubarkan. Waktu itu saya sangat marah,” kata Bahruddin.
Ia menegaskan, tanpa fasilitas negara, sekolah-sekolah semacam ini akan sulit berkembang. “Karena itu, kami menagih janji dari kampanye Presiden waktu itu untuk membikin Community Learning Society, satu terobosan sistem alternatif pendidikan yang sekarang malah jadi mati,” lanjutnya. “Dan jika negara tidak memberi fasilitas, itu merupakan pelanggaran HAM yang cukup berat oleh negara,” tegas Bahruddin.
Sangat bisa dipahami jika mereka kini menagih janji. Kenyataannya, mendirikan sekolah berkualitas dan murah bukanlah mimpi di siang hari. Kini, tinggal menunggu pihak berwenang dalam menyikapi fenomena tersebut. Masih ada kesempatan bagi para pemimpin negeri ini untuk menepati janji yang telah mereka ucapkan di hadapan seluruh anak bangsa di negeri ini. (RIEN KUNTARI)
apa yg kamu lakukan kalau kamu sedang down?
melamun?
chatting?
curhat?
baca buku?
teriak?
marahin orang?
ngemil?
tidur?
!@%#%$^&^&*&*()+|+_))(*(*^&^$#@$%$}{:"<>?>+|)_((*^&%$#!%@}}:"><?|+))(&*^%%@
sebenernya, seminggu ini gw mengalami DILEMA!
banyak kontradiksi yg terjadi, dan gw harus membuat keputusan sesegera mungkin!
masalahnya keputusan yg gw ambil akan sangat menentukan masa depan gw…
mudah2an gak salah menentukan keputusan
ya Tuhan, bantu aku keluar dr labirin ini, amien,,,